PUNK5 jalan

PUNK5 COMPUTER DESIGNER BLOG

Sabtu, 24 Agustus 2013

BABAD ALAS LAMAJANG

BABAD ALAS LAMAJANG OLEH BALAI ARKEOLOGI YOGYAKARTA
Mansur hidayat | Kamis, 22 Agustus 2013 - 11:45:14 WIB | dibaca: 104 pembaca
Tim Balar sedang melakukan penelitian di Pantai Pancer Pandanarum, Rabu (21/08/2013)
Oleh: Mansur Hidayat
 
Lamajang Tigang Juru ada suatu kerajaan besar yang dipimpin seorang inspirator bagi pengusiran pasukan Mongol Tar Tar, sebuah pasukan yang sangat legendaris dalam sejarah militer dunia. Namun dalam kenyataannya, sisa peninggalan kerajaan ini terbengkalai atau dapat dikatakan terlantar begitu saja dan nama sang raja Arya Wiraraja tenggelam begitu rupa dari ingatan para penerusnya.

Sejarah adalah produk dari pernak-pernik ingatan yang terus menerus di kumandangkan dan bahkan dihiruk-pikukkan. Suatu hal yang positif jika ada thesis dan anti- thesis sehingga setiap anak jaman bisa menilai kekurangan dan kelebihan dan generasi terdahulu.

Ilmu aekologi sendiri adalah berkaitan dengan pembuktian semua hiruk-pikuk dan pernak-pernik sejarah. Kehebatan Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru tentunya tidak bisa kita bayangkan tanpa adanya bukti-bukti peninggalannya sehingga bisa dibuktikan dan disaksikan oleh generasi penerusnya.

Menurut para sejarawan, "Histoire l'repite" atau sejarah berulang. Tak heran ketika
disuatu masa sebuah wilayah harus tampil menggoreskan tinta emas sejarahnya, namun disuatu kurun tertentu goresan itu berganti menjadi rimbunan semak belukar.

Dalam pewayangan, pembukaan kembali rimbunan hutan Amarta dilakukan oleh 5 orang laki-laki yang disebut Pandawa dan 1 orang perempuan bernama Drupadi yaitu istri Yudistira. Jin, Genderuwo, buto Cakil sampai Buto Ijo dihadapi dengan tabah. Segenap hutan dirambah dan rimbunan dedaunan dan alang-alang dibersihkan dengan semangat baja untuk dijadikan Istana. Tampak Drupadi, seorang putri yang terkenal cekatan itu tak segan-segan ikut dalam petualangan yang tak kalah dengan acara "Jejak Petualang atau Back Packer" seperti yang disiarkan oleh Televisi nasional.

Entah kebetulan atau tidak, pembukaan Hutan Amarta yang terkenal sebagai tempat yang angker mempunyai kesamaan cerita dengan tim penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta yang menjejakkan kaki di Bumi Lamajang Tigang Juru pada tanggal 20 Agustus 2013. Timyang dipimpin oleh Drs. Hawari ini terdiri dari 5 anggota laki-laki dan 1 orang Wanita bernama Novida Abbas.

Panatai, sungai, bukit dan gunungpun dijelajahi untuk menggali dan merangkai kembali pernak-pernak dan jejak sejarah yang hilang. Seluruh pantai selatan Lumajang dari Wot Galih sampai Tempur Sari ditelusuri untuk melihat sebaran goa dan bunker jaman Jepang  yang nantinya dapat berguna untuk pendidikan maupun pariwisata. Tak perduli panas dan terik matahari menyengat, tim ini bertugas untuk membersihkan dan membuat lentera ketika sejarah penjajahan Jepang di bumi Lamajang ingin diperkenalkan.

Rangkaian beton yang terlantar, dinding-dinding bunker yang membisu telah menjadi saksi peradaban. Semua berserakan bagai hutan belantara yang akan di sulap menjadi Kraton tempat para Pandawa bertahta dan menagih janji kepada Korawa atas ketidak adilan yang menimpa. Bekas-bekas peninggalan itu, tidak hanya hidup dalam catatan, namun juga dalam jejak-jejak langkah laki dan sepatu gunung atau sepatu kets yang memecah kesunyian dan hilang ditelan waktu yang berjalan.



Sumber Berita: www.pedomannusantara.com


http://pedomannusantara.com/berita-babad-alas-lamajang-oleh-balai-arkeologi-yogyakarta.html#.UhWZqRQyvNE.facebook#ixzz2coQqavdI